Kata
wali adalah sebuah kata yang sudah tidak asing di telinga kita, apalagi
jika sudah digandeng bersama dengan kata karomah. Pemahaman masyarakat
yang ditangkap dari gabungan kata tersebut adalah suatu kedigdayaan yang
dimiliki seseorang yang sudah mencapai derajat ma'shum (terlindung dari
dosa dan kesalahan), yang menduduki seperti posisi Tuhan dan tidak
perlu melaksanakan perintah syariat. Mereka
mendudukkan orang yang disebut wali tersebut sebagai manusia yang khusus
dan dijadikan rujukan segala permasalahan yang mereka hadapi. Mereka
diyakini terlepas dari beban syariat karena sudah mencapai tingkat
ma'rifat, berbeda dengan masyarakat awam yang hanya baru pada tingkat
syariat. Namun bagaimana pemahaman Islam yang benar mengenai hal ini?
Definisi Karomah
Karomah menurut bahasa artinya kemuliaan. Menurut istilah, karomah
adalah kejadian luar biasa yang tidak untuk tantangan dan tidak untuk
mengaku nabi. Alloh ta'ala menganugerahkan karomah kepada wali-Nya yang
beriman untuk menolong urusan agama atau dunianya (Syarah Ushul I'tiqod
Ahlussunnah Wal Jamaah). Jadi termasuk prinsip ajaran Islam yaitu
membenarkan adanya karomah para wali dan kemampuan luar biasa yang Alloh
anugerahkan kepada mereka. Karomah tersebut dapat berupa ilmu,
kekuasaan dan lainnya. Lihatlah Maryam putri 'Imron yang mendapatkan
makanan dari Alloh tanpa bersusah payah. Begitu pula istri nabi Ibrohim
'alaihi salam yang sudah tua namun dikaruniai anak oleh Alloh, serta
berita-berita mengenai para pemuka dari umat ini, yaitu para sahabat,
tabi'in dan generasi berikutnya. Karomah tersebut akan tetap ada dalam
umat ini sampai hari kiamat tiba.
Beberapa Poin Penting Tentang Karomah
Karomah menunjukkan kesempurnaan Alloh dan kehendak-Nya. Dia lah yang
menentukan sebab terjadinya sesuatu sesuai apa yang dikehendakiNya.
Karomah para wali ini pada hakikatnya adalah bagian dari mu'jizat para
nabi alaihi salam. Karena tidak mungkin karomah itu akan diperoleh
mereka melainkan dengan sebab barokah mengikuti Nabi mereka, yang telah
memperoleh kebaikan yang banyak.
Karomah yang diperoleh para wali adalah kabar gembira yang disegerakan oleh Alloh dalam kehidupan dunia.
Wali Adalah Orang Yang Taat dan Bukan Orang Fasiq dan Pecinta Maksiat
Para pembaca yang budiman, adakalanya kita dengar kisah ada seorang wali
yang punya kekuatan luar biasa akan tetapi ia meninggalkan sholat,
meninggalkan sholat jumat dan lebih senang menyepi dari manusia.
Perhatikanlah baik-baik firman Alloh yang artinya, "Ingatlah,
sesungguhnya wali-wali Alloh itu tidak ada kekhawatiran atas mereka dan
tidak pula mereka bersedih hati. Mereka itulah orang-orang yang beriman
dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira dalam kehidupan
di dunia dan akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat
(janji-janji) Alloh. Demikian itulah kemenangan yang besar." (QS. Yunus:
62-64). Dalam ayat ini yang dikatakan wali adalah orang-orang yang
beriman kepada Alloh dan bertaqwa. Orang beriman dan bertaqwa ialah
mereka yang selalu melaksanakan kewajiban syar'i yang harus
dilaksanakan, seperti sholat, puasa, haji dan sebagainya. Mereka adalah
manusia juga yang dibebani dengan beban syariat.
Termasuk dalam kriteria keimanan disini adalah mengimani bahwa agama
yang disyariatkan oleh Alloh itu melalui Rosul-Nya. Dengan demikian,
wali Alloh ialah orang yang beriman kepada Rosululloh, ajaran beliau
serta mengikuti beliau lahir dan batin. Barangsiapa mengaku wali, namun
tidak mengikuti beliau maka tidak termasuk wali Alloh, bahkan jika dia
menyelisihinya maka termasuk musuh Alloh tergolong wali setan. Alloh
berfirman yang artinya, "Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai
Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni
dosa-dosamu." (QS. Ali Imron: 31). Alloh menjelaskan dalam ayat ini,
barangsiapa yang mengaku mencintai Alloh maka dia harus mengikuti
syariat yang dibawa oleh Rosul-Nya.
Para pembaca yang budiman, syariat Islam itu berlaku untuk seluruh umat
Rosululloh shollallohu alaihi wassalam tanpa terkecuali. Sehingga adanya
pembagian istilah hakekat, syariat dan ma'rifat bukanlah bagian dari
Islam. Istilah tersebut produk orang-orang sufi yang bodoh syariat yang
mulia ini. Maka jangan heran jika mereka melakukan cara-cara yang bid'ah
untuk mencapai tingkatan tertinggi -versi mereka- sebagai makhluk
ciptaan Alloh.
Mencari Karomah
Karomah wali yang berupa kejadian luar biasa bukanlah tujuan hidup
seorang muslim, berbeda dengan orang tarekat sufi, mereka selalu mencari
karomah, dan ingin menjadi wali, hingga mampu mengeluarkan keanehan.
Orang mukmin hendaknya mencari istiqomah, karena keanehan bukanlah
syarat wali Alloh dan bukanlah syarat kesempurnaan iman. Alloh Ta'ala
berfirman yang artinya, "Maka istiqomahlah (tetaplah kamu pada jalan
yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu." (QS. Hud: 112).
Ketahuilah bahwa dengan tidak munculnya karomah atau kejadian luar biasa
pada orang yang beriman, tidaklah membahayakan agamanya dan tidak pula
mengurangi martabatnya di sisi Alloh. Bahkan boleh jadi tiadanya karomah
lebih bermanfaat bagi dirinya. Apabila keanehan yang muncul pada diri
orang mukmin disertai dengan amalan agama yang benar, memang bermanfaat.
Tetapi bila tidak, pemiliknya akan binasa di dunia dan di akhirat.
(Al-Minhatul Ilahiyah, Fatawa Ibnu Taimiyah). Wallohu a'lam bishowab.
0 Response to "RAHASIA DI BALIK KAROMAH WALI"
Post a Comment